Rabu, 16 Maret 2016

Selamat Jalan Pak Ratno

Kemarin, hari Rabu tanggal 16 Maret 2016 sebenarnya kelas kami mengikuti dua matakuliah. Pukul 08.00 matakuliah Perencanaan dan Pengembangan Kampus bersama Dr. Nares, dilanjutkan pukul 10.00 matakuliah Ekonomika Pendidikan Tinggi bersama Pak Ratno, sapaan kami untuk Dr. Soeratno, pensiunan dosen FEB UGM. Namun, beberapa menit setelah Dr. Nares keluar kelas, berita duka sampai ke telinga kami. Pak Ratno baru saja meninggal dunia.
Innalillahi wa inna ilaihi raji'un. Kullu nafsin dzaiqatul maut.
Segala sesuatu adalah milik-Nya, dan akan kembali kepada-Nya.
Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan kematian.
Pak Ratno, sosok yang menyampaikan ilmunya secara menyeluruh dengan mendiktekan seluruh materi kuliah kepada mahasiswa dan senantiasa sabar menunggu mahasiswa menyalin kata-kata yang beliau ucapkan. Semua yang beliau sampaikan merupakan hal penting untuk dicatat, jadi mahasiswa akan rugi jika ada satu kata yang terlewat.
Beliau sosok yang senang bercanda, di dalam maupun di luar kelas. Candaan beliau bukan candaan biasa, banyak pengalaman hidup yang beliau bagikan pada kami lewat candaan itu. Candaan yang penuh hikmah dan pesan moral. Pesan agar kehidupan ini harus dijalani dengan berpegang teguh pada agama, tidak luput juga pesan mengenai kehidupan berumah tangga.
Selamat jalan Pak Ratno. Semoga segala amal ibadahmu diterima oleh-Nya, dosa-dosamu diampuni oleh-Nya. Semoga segala ilmu yang engkau bagikan selama puluhan tahun menjadi amal jariah yang akan terus mengalir untukmu selama masa penantian di alam barzah.
Hari ini engkau harus memenuhi panggilan-Nya. Sedangkan kami masih di sini, dalam antrian menunggu panggilan-Nya. Entah kapan. Bisa tahun depan, bulan depan, minggu depan, esok, atau bahkan hari ini. Wallahu'alam.

Minggu, 13 Maret 2016

PENAMPILAN TERBAIK KITA UNTUK SIAPA?

Ketika kita akan menghadiri undangan, salah satu hal utama yang kita persiapkan tenu saja penampilan kita. Entah undangan tersebut ada dress code-nya atau tidak, tapi kita tentu akan mengenakan pakaian terbaik, sandal/sepatu terbaik, dan untuk kaum hawa tak ketinggalan make-up di wajah agar terlihat semakin cantik. Katanya, itu dimaksudkan untuk menghargai yang mengundang.

Menghadiri undangan merupakan pemenuhan hak saudara kita. Namun bagaimanapun juga, itu hanyalah undangan biasa, undangan dari manusia. Ada undangan lain yang begitu istimewa, karena yang mengundang juga keistimewaan-Nya tak terbatas. Undangan itu adalah undangan ke tanah suci dan undangan ke alam barzah.

Undangan dari manusia, kita penuhi dengan kesungguhan hati. Kita persiapkan penampilan kita sebaik mungkin. Lantas, bagaimana persiapan kita untuk memenuhi kedua undangan ini?Logikanya, karena yang mengundang begitu istimewa, sudah barang tentu persiapan kita juga lebih istimewa. Pakaian yang kita gunakan juga seharusnya lebih istimewa. Akan tetapi, ternyata yang mengundang sudah memberikan dress code-nya. Cukup pakaian ihram untuk ke tanah suci, dan kain kafan untuk ke alam barzah. Begitu sederhana. Pakaian ihram bagi laki-laki adalah 2 lembar kain yang tidak berjahit yang dipakai untuk bagian bawah menutup aurat, dan kain satunya lagi diselendangkan. Pakaian ihram bagi perempuan adalah pakaian yang menutup seluruh badannya kecuali muka dan telapak tangan. Sedangkan, kain kafan adalah kain tanpa jahitan yang dipakai untuk membungkus kita sebelum kita dimakamkan. Begitu sederhana untuk sebuah undangan yang sungguh istimewa.

Mengapa Dia memberikan kode kepada kita berkaitan dengan pakaian apa yang harus kita gunakan untuk memenuhi undangan-Nya? Mungkin saja, salah satunya agar kita sadar bahwa pakaian yang selama ini kita gunakan tidak bermakna apa-apa dihadapan-Nya. Perbedaan pakaian tidak menunjukkan perbedaan derajat antar manusia. Dia sendiri yang menyatakan itu dalam kalam-Nya, sebaik-baik insan, adalah insan yang bertaqwa. Tidak peduli pakaian duniawi kita adalah pakaian pemulung atau pejabat, pakaian petani atau konglomerat, asalkan pakaian yang kita gunakan dihadapan-Nya adalah pakaian ketaqwaan, maka kita menjadi tamu undangan yang istimewa dihadapan-Nya.

Ada lagi trend saat ini, yang cukup menyita waktu kita untuk memikirkan penampilan kita, yaitu trend swafoto, atau dalam istilah kekiniannya selfie. Selfie merupakan jenis foto potret diri yang diambil sendiri. Selfie biasanya diiringi dengan mengunggah foto tersebut ke media sosial. Foto yang diunggah tersebut merupakan foto dengan kualitas terbaik, dari segi pose, pencahayaan, kualitas ISO dan lain sebagainya.
Foto yang di-upload kemudian akan mengundang perhatian dari teman-teman kita di dunia maya. Ratusan like dan puluhan comment pujian berdatangan. Hal ini semakin memacu semangat kita untuk meng-upload foto terbaik lainnya. Semakin sibuk kita memperbaiki penampilan kita di hadapan manusia. Lantas, kita pun perlahan mulai melupakan, kepada siapa seharusnya penampilan terbaik kita persembahkan.

Kebanyakan kita sibuk memenuhi gaya hidup, sibuk terlihat baik di hadapan manusia. Walau kita tahu sebaik apapun kita berusaha, tidak mungkin kita mampu mencuri perhatian seluruh manusia. Padahal sekalipun seluruh manusia menilai kita buruk, tidak akan mempengaruhi penilaian Sang Maha Penguasa terhadap kita. Lantas, untuk apa kita bersusah payah terlihat baik di hadapan makhluk lalu lalai memperbaiki penampilan kita di hadapan Sang Khalik?

Wallahu 'alam..
Kunjungi saya di Facebook: Tia Lang Ere

MENGURANGI AGAR SEMAKIN BERTAMBAH

Bagaimana mungkin, mengurangi bisa membuat semakin bertambah? Terdengar kontradiktif, tapi tentu saja mungkin, dan fenomena ini sering kita jumpai di alam. Mari kita perhatikan.

Alam memberikan begitu banyak pelajaran berharga. Siang dan malam yang nampaknya kontradiktif, ternyata terjadi secara bersamaan. Timur dan barat juga sering kita katakan sebagai kata yang berlawanan, tapi ternyata timur bisa menjadi barat dan barat bisa menjadi timur.

Dari sebatang pohon pun banyak pelajaran berharga yang dapat diambil, tentu saja hanya oleh orang yang mau “membaca” tanda-tanda yang diberikan. Sebuah contoh kecil, sebatang pohon yang dipangkas ujung-ujungnya. Nampak jelas bahwa setelah dipangkas, ukuran pohon itu menjadi lebih kecil, ukuran pohon kita kurangi. Tapi, beberapa waktu setelah itu, akan ada banyak tunas baru yang tumbuh, yang nantinya akan berkembang menjadi cabang-cabang pohon yang lebih banyak serta lebih subur dari sebelumnya. Mengurangi ukuran pohon, membuat ukurannya semakin brtambah besar.

Sedekah pun seperti itu. Dengan kalkulasi sederhana, setelah bersedekah harta kita berkurang sebanyak apa yang kita sedekahkan. Namun, matematika sedekah berbanding terbalik. Dengan mengurangi jumlah harta yang kita miliki lewat sedekah, menjadi penyebab semakin bertambah banyaknya harta yang kita miliki, cepat atau lambat, di dunia maupun di akhirat. Tidak percaya???

“Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji. Allah melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki, dan Allah Mahaluas, Maha Mengetahui.” (QS. 2: 261)

Dengan janji-Nya yang seperti ini, dan kita sama-sama tahu bahwa Dia tidak pernah ingkar janji, seharusnya membuat kita tidak ragu-ragu untuk mengeluarkan harta kita di jalan-Nya. Apapun keadaan kita, memiliki kekayaan atau berkecukupan. Ya, lawan dari kekayaan adalah kecukupan, bukan kemiskinan. (Lihat QS. 53: 48).

“Dan bersegeralah kamu mencari ampunan dari Tuhanmu dan mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa; (yaitu) orang yang berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Dan Allah mencintai orang yang berbuat kebaikan.” (3: 133-134)

“Hendaknya orang yang mempunyai keluasan memberi nafkah menurut kemampuannya, dan orang yang terbatas rezekinya, hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya. Allah tidak membebani seseorang melainkan (sesuai) dengan apa yang diberikan Allah kepadanya. Allah kelak akan memberikan kelapangan setelah kesempitan.” (65: 7)

Dari kedua kutipan ayat tersebut, terlihat bahwa bukan hanya yang memiliki kekayaan saja yang diminta untuk bersedekah. Orang yang dalam keadaan sempit rezekinya juga diminta melakukan hal yang sama. Lapang maupun sempit, kaya maupun cukup.

Berkaitan dengan urusan sedekah ini, saya jadi teringat sebuah kisah dari seorang teman, yang dia peroleh dari Ustadz Salim A. Fillah (via inspiring_muslimah). Diceriterakan tentang seorang haji, sebut saja Haji Usman. Mungkin orangtuanya dulu berdo'a agar sang putra mewarisi kemuliaan Sayyidina Utsman ibn Affan Radhiyallahu ‘Anhu.

Pemilik salah satu usaha batik terkemuka di Yogyakarta ini memang dikenal atas kedermawanannya, seakan harta telah begitu tak berharga baginya. Seakan dunia telah begitu hina di matanya. Ringan baginya membuka kotak persediaan, gampang baginya menyeluk kantong simpanan dan seakan tanpa beban dia mengulur bantuan. Inilah mungkin sosok nyata orang yang dunia di tangannya dan akhirat di hatinya. Maka beberapa orang pengusaha muda yang bersemangat mendatangi beliau...

“Ajarkan pada kami, Ji,” kata mereka, “bagaimana caranya agar kami seperti Haji Usman. Bisa tidak cinta pada harta dan tidak sayang pada kekayaan, hingga seperti haji Usman, bershadaqah terasa ringan.”
“Wah,” sahut Haji Usman tertawa, “salah alamat!”
“Lho?”… .

“Lha iya. Kalian datang pada orang yang salah. Lha saya ini SANGAT MENCINTAI HARTA SAYA je. Saya ini sangat mencintai kekayaan saya je.”
“Lho?”...

“Kok lho. Lha sebab saking cinta dan sayangnya saya pada harta, SAMPAI-SAMPAI SAYA TIDAK RELA MENINGGALKAN HARTA SAYA DI DUNIA INI. Saya itu TIDAK MAU BERPISAH dengan kekayaan saya. Makanya sementara ini saya titip-titipkan dulu. TITIP pada Masjid, TITIP pada anak yatim, TITIP pada madrasah, TITIP pada pesantren, TITIP pada pejuang fii sabilillah. Alhamdulillah ada yang berkenan dititipi, saya senang sekali. Alhamdulillah ada yang sudi diamanati, saya bahagia sekali. Pokoknya DI AKHIRAT NANTI MAU SAYA AMBIL LAGI. Saya ingin kek
ayaan saya itu dapat saya nikmati berlipat-lipat di akhirat.”

Mengurangi agar semakin bertambah. Tambahan itu bisa langsung kita rasakan di dunia dalam waktu cepat atau lambat, atau bisa juga Allah tangguhkan hingga nanti di akhirat. Sekali lagi, mengurangi agar semakin bertambah, tidak hanya berkutat pada masalah harta. Tapi lebih jauh lagi dari itu, mengurangi kecintaan pada dunia, agar semakin bertambah kedekatan kita dengan-Nya.

Aamiin Allahumma Aaamiin.

SISTEM PENDIDIKAN TERBAIK

Oleh: Muhammad Husnan
Sumber: www.amalia.com

Sekitar Empat tahun yang lalu tepatnya di awal Ramadhan 1433 H mengikuti kuliah subuh di Masjid dekat rumah. Ustadz yang berceramah menceritakan kisah nyata dari seorang rektor salah satu perguruan tinggi swasta di Indonesia yang sedang mencari sistem pendidikan terbaik yang dapat menghasilkan dan mencetak generasi yang cerdas, bermartabat dan bisa bermanfaat bagi bangsa dan agama.

Untuk mencari sistem pendidikan terbaik, rektor tersebut pergi ke Timur Tengah untuk meminta nasihat dari seorang ulama terkemuka di sana. Ketika bertemu dengan ulama yang ingin ditemuinya, lalu dia menyampaikan maksudnya untuk meminta saran bagaimana menciptakan sistem pendidikan terbaik untuk kampus yang dipimpinnya saat ini.

Sebelum menjawab pertanyaan dari rektor, ulama tersebut bertanya bagaimana sistem pendidikan saat ini di Indonesia mulai dari tingkat bawah sampai paling atas?
Rektor menjawab, "paling bawah mulai dari SD selama 6 tahun, SMP 3 tahun, SMA 3 tahun, D3 3 tahun atau S1 4 tahun, S2 sekitar 1.5 - 2 tahun, dan setelah itu S3 untuk yang paling tinggi.
Jadi untuk sampai S2 saja butuh waktu sekitar 18 tahun ya? Tanya Sang Ulama.
Iya, jawab rektor tersebut.
 
Lalu bagaimana jika hanya lulus sampai di SD saja selama 6 tahun, pekerjaan apa yang akan bisa didapat? Tanya kembali Sang Ulama.
Kalau hanya SD paling hanya buruh lepas atau tukang sapu jalanan, tukang kebun dan pekerjaan sejenisnya. Tidak ada pekerjaan yang bisa diharapkan jika hanya lulus SD di negeri Kami. Jawab si rektor.
Jika Lulus SMP bagaimana?
Untuk SMP mungkin jadi office boy (OB) atau cleaning service, jawab kembali si rektor.
Kalau SMA bagaimana?
Kalau lulus SMA masih agak mending pekerjaan nya di negeri Kami, bisa sebagai operator di perusahaan-perusahaan, lanjut si rektor.
Kalau lulus D3 atau S1 bagaimana? Bertanya kembali Sang Ulama. Kalo lulus D3 atau S1 bisa sebagai staff di kantor dan S2 bisa langsung jadi manager di sebuah perusahaan, kata si rektor.

Berarti untuk mendapatkan pekerjaan yang enak di negeri Anda minimal harus lulus D3/S1 atau menempuh pendidikan selama kurang lebih 15-16 tahun ya? Tanya kembali sang Ulama.
Iya betul, jawab si rektor.

Sekarang coba bandingkan dengan pendidikan yang Islam ajarkan. Misal selama 6 tahun pertama (SD) hanya mempelajari dan menghapal Al-Qur'an, apakah bisa hapal 30 juz? Tanya Sang Ulama.
Inshaa Alloh bisa, jawab si rektor dengan yakin.
Apakah ada hafidz Qur'an di negeri Anda yang bekerja sebagai buruh lepas atau tukang sapu seperti yang Anda sebutkan tadi untuk orang yang hanya Lulus SD? Kembali tanya Sang Ulama.
Tidak ada, jawab si rektor.

Jika dilanjut 3 tahun berikutnya mempelajari dan menghapal hadis apakah bisa menghapal ratusan hadis selama 3 tahun?
Bisa, jawab si rektor.
Apakah ada di negara Anda orang yang hapal Al-Qur'an 30 juz dan ratusan hadis menjadi OB atau cleaning service?
Tidak ada, jawab kembali si rektor.

Lanjut 3 tahun setelah itu mempelajari tafsir Al-Qur'an, apakah ada di negara Anda orang yang hafidz Qur'an, hapal hadis dan bisa menguasai tafsir yang kerjanya sebagai operator di pabrik? Tanya kembali ulama tersebut.
Tidak ada, jawab si rektor.
Rektor tersebut mengangguk mulai mengerti maksud sang ulama.
Anda mulai paham maksud Saya?
Ya, jawab si rektor.

Berapa lama pelajaran agama yang diberikan dalam seminggu?
Kurang lebih 2-3 jam, jawab si rektor.
Sang ulama melanjutkan pesannya kepada si rektor, jika Anda ingin mencetak generasi yang cerdas, bermartabat, bermanfaat bagi bangsa dan agama, serta mendapatkan pekerjaan yang layak setelah lulus nanti, Anda harus merubah sistem pendidikan Anda dari orientasi dunia menjadi mengutamakan orientasi akhirat karena jika Kita berfokus pada akhirat inshaa Alloh dunia akan didapat. Tapi jika sistem pendidikan Anda hanya berorientasi pada dunia, maka dunia dan akhirat belum tentu akan didapat.

Pelajari Al-Qur'an karena orang yang mempelajari Al-Qur'an, Alloh akan meninggikan derajat orang tersebut di mata hamba- hambaNya. Itulah sebabnya Anda tidak akan menemukan orang yang hafidz Qur'an di negara Anda atau di negara manapun yang berprofesi sebagai tukang sapu atau buruh lepas walaupun orang tersebut tidak belajar sampai ke jenjang pendidikan yang tinggi karena Alloh yang memberikan pekerjaan langsung untuk para hafidz Qur'an. Hafidz Qur'an adalah salah satu karyawan Alloh dan Alloh sayang sama mereka dan akan menggajinya lewat cara-cara yang menakjubkan. Tidak perlu gaji bulanan tapi hidup berkecukupan.

Itulah pesan Sang Ulama kepada rektor tersebut. Mari kita didik diri dan keluarga kita agar senantiasa selalu membaca, mempelajari, dan menghapal Al- Qur'an agar hidup kita dimudahkan dan berkecukupan. Totalitas menjadi karyawan Alloh bukan hanya karyawan dari seorang manusia.

Semoga bermanfaat. Silahkan dishare agar semakin banyak yang terinspirasi untuk mempelajari dan menghapal Al- Qur'an.

DI BALIK PESAN IBU TENTANG JANGAN LUPA SHOLAT.

Oleh: FAHD PAHDEPIE
Sumber: inspirasi.co

Sewaktu kuliah di Jogja, setiap kali pulang ke rumah saya di Bandung, ibu saya selalu mengulang-ulang pesan yang sama, "Jangan lupa shalat!" Berkali-kali mendengar nasihat itu, lama-lama saya bosan dan jengah juga. "Ya enggak lah, Bu! Nggak akan lupa kok, tenang aja." Jawab saya, kesal. Mendengar semua itu, ibu saya hanya tersenyum. Lalu kembali membantu saya menyiapkan keperluan lainnya untuk kembali ke Jogja: Beberapa bungkus abon sapi, pakaian yang telah dicuci dan disetrika, uang jajan sampai bulan depan.

Di stasiun kereta kami berpisah, saya mencium tangan ibu dan ayah, lalu memeluk mereka berdua. Tapi sebelum pergi, pesan ibu tetap saja sama, itu lagi dan itu lagi, "Jangan lupa shalat!" Saya hanya bisa mengangguk. Dengan pertanyaan menggumpal di hati.

Bertahun-tahun sejak semua itu, saya baru menyadari betapa penting dan luar biasa pesan ibu tentang shalat. Ternyata semua itu bukan sekadar mengingatkan saya untuk menjalankan shalat sebagai ibadah ritual, yang sifatnya rutin dan wajib. Tapi lebih dari itu...

 Shalat yang tak boleh dilupakan seorang manusia ternyata adalah shalat yang menjelma menjadi karakter dalam dirinya. Shalat, sebagaimana kata itu terbentuk dalam Bahasa Arab, terangkai dari tiga huruf: SHAD, LAM, dan TA (marbuthah). Maka inilah pesan ibu yang sebenarnya:
Jangan lupa shalat. Jadilah individu yang memiliki SHAD dalam dirinya: Shidqul qouli, seseorang yang selalu benar ucapnnya.
Jangan lupa shalat. Jadilah pribadi yang senantiasa menjaga LAM dalam setiap nafas hidupnya: Layyinul qolbi, seseorang yang lembut hatinya.
Dan jangan lupa shalat! Teruslah berusaha menjadi manusia yang teguh dengan prinsip TA dalam dirinya: Tarqul ma'asyi, yang senantiasa menjauhkan diri dari perbuatan-perbuatan tercela.

Kini saya tahu betapa penting dan luar biasanya pesan ibu. Saya mungkin tidak lupa menjalankan shalat ritual, tetapi saya belum tentu bisa selalu mengerjakan shalat aktual... Shalat yang mendarah daging dalam diri saya, menjadi karakter dan budi pekerti saya sehari-hari.

Sekarang tentu saya sudah tak kuliah lagi Jogja, dan Ibu sudah jarang menasihati saya untuk "Jangan lupa shalat". Mungkin ibu pikir saya sudah dewasa dan saya sudah mengerti. Tapi sebenarnya saya selalu butuh nasihat itu... Nasihat yang terus mengingatkan saya untuk shalat (sha-la-t), untuk menjadi pribadi yang selalu benar kata dan perbuatannya, yang lembut hati dan perangainya, yang menjauhkan diri dari perbuatan keji dan munkar...

 Terima kasih, Ibu. Selama ini mungkin saya merasa sudah shalat. Tetapi ternyata belum... Selalu belum...

Wallahu'alam Bishawab
Semoga Bermanfaat

** SEKEDAR PENGINGAT DIRI **




Tempatnya di tangan, bukan di hati.
Agar ketika hilang, tak ada sesal diri.
Makhluk bukan tempat menggantung harapan, kembalikan semua pada Ilahi Robbi.
Dalam hati selalu pupuk keyakinan, bahwa Dia tak pernah ingkar janji.
***
Hidup di dunia hanya sementara dan hanya permainan belaka.
Tak ada jaminan bahwa esok kita masih bisa bernapas lega.
Siapa yang tahu kapan malaikat maut datang menjemput kita.
Jika saat itu tiba, mau tidak mau kita harus menghadap Sang Maha Penguasa.
***
Memperbaiki diri harus senantiasa terjadi.
Sejak saat ini di sini, hingga suatu nanti.
Terkadang kita memperbaiki diri dengan niat mengejar duniawi.
Mulai dari urusan duit sampai urusan mencari calon suami atau isteri.
***
Tidak ingatkah kita akan sebuah kalimat penuh makna?
Kepahitan yang paling pahit adalah berharap kepada manusia.
Berjodoh dengan pujaan hati belum tentu terjadi.
Tapi kematian merupakan sesuatu yang pasti.
***
Mari luruskan niat kita.
Mendekati-Nya hanya karena-Nya.
Bukan sekedar ingin menjadi kaya akan harta.
Bukan sekedar ingin mendapat jodoh yang "sempurna".
Juga bukan karena mengharap surga-Nya.
Tapi semata-mata ibtigha mardhatillah, menggapai ridho-Nya.
***
Lepas Subuh, Yogyakarta, 05 Maret 2016

SIAPA YANG SALAH???



Gambar ini hanyalah fiktif belaka. Namun, jika benar terjadi seperti ini, siapa yang salah? Tentu saja banyak dari kita yang berpikir bahwa ini adalah salah si Udin. Siswa kelas VI SD yang “terlihat” tidak tahu siapa nama Presiden Indonesia pertama, yang “terlihat” tidak tahu apa nama ibukota Provinsi Jawa Barat, yang “terlihat” tidak tahu berapa jumlah provinsi di Indonesia, dan yang “terlihat” tidak tahu mengapa manusia disebut makhluk sosial. Apakah benar si Udin yang “terlihat” tidak tahu itu benar-benar tidak tahu?
Coba kita ubah sudut pandang kita. Jika tadinya kita menilai dari sisi yang berseberangan dengan si Udin, sekarang mari kita berpindah posisi, sejajar dengan si Udin. Sebelum mengerjakan soal ujian, si Udin lebih dahulu mengisi identitasnya. Setelah itu dia tidak langsung mengerjakan soal, ia masih meluangkan waktu sejenak untuk membaca petunjuk pengerjaan soal. “Jawablah pertanyaan berikut dengan BENAR dan TEPAT”. Si Udin tahu bahwa petunjuk pengerjaan soal adalah perintah yang harus diikuti. Artinya, ia diperintah untuk menjawab pertanyaan dengan BENAR dan TEPAT.
Lalu ketika si Udin sudah menjawab soal mengikuti petunjuk yang ada, jawabannya tidak diBENARkan sedikitpun oleh sang Guru, si Udin memperoleh nilai 0. Bisa saja muncul dalam benak si Udin, “Apa yang diinginkan guru saya? Sudah saya ikuti semua petunjuknya, tapi jawaban saya salah semua. Ini saya yang bodoh, atau guru saya yang punya masalah dengan KESADARANnya?”. Namun sangat tidak mungkin hal ini si Udin sampaikan pada Sang Guru. Karena yang ia tahu, GURU adalah seorang yang DIGUGU dan DITIRU. Tidak mungkin seorang yang digugu dan ditiru menilai kemampuannya dalam keadaan tidak sadar. Lantas, sadarkah Sang Guru bahwa ia adalah sosok yang digugu dan ditiru? Sadarkah Sang Guru, bahwa penilaian terhadap peserta didik harus dilakukan secara menyeluruh, bukan hanya menilai peserta didik tapi juga menilai dirinya sebagai pendidik.
Banyak di antara kita, yang berprofesi sebagai guru, sering mengeluhkan ketidakmampuan peserta didik kita dalam memahami pelajaran yang kita sampaikan. Sering mengeluhkan ketidakpedulian peseta didik terhadap kita saat berlangsungnya proses pembelajaran. Peserta didik yang sering ribut di kelas, sibuk dengan urusannya sendiri tapa menghargai keberadaan guru. Namun sedikit sekali yang melakukan introspeksi diri, apa yang salah sehingga peserta didik tidak peduli dengan keberadaan guru, apa yang salah sehingga peserta didik tidak mampu memahami apa yang disampaikan guru. Tidak mungkin muncul akibat tanpa didahului oleh sebab. Kesalahan yang dilakukan seseorang bisa diakibatkan oleh kesalahan orang yang mengajarinya.
Harus diakui bahwa itulah potret “kecil” pendidikan kita hari ini. Kecil namun berdampak besar. Karena seperti yang kita tahu, “Jika seorang dokter melakukan kesalahan nyawa satu orang bisa terancam, namun jika seorang guru melakukan kesalahan maka rusaklah satu generasi”. Untuk kita barisan para guru, tetap semangat menuntut ilmu, dan jangan malu menjadikan peserta didik sebagai guru, evaluasi diri itu perlu.