Kamis, 17 Maret 2016

NAFSU TERSEMBUNYI


Beberapa pakar sejarah Islam meriwayatkan sebuah kisah menarik. Kisah Ahmad bin Miskin, seorang ulama abad ke-3 Hijriah dari kota Basrah, Irak. Beliau bercerita:

Aku pernah diuji dengan kemiskinan pada tahun 219 Hijriyah. Saat itu, aku sama sekali tidak memiliki apapun, sementara aku harus menafkahi seorang istri dan seorang anak. Lilitan hebat rasa lapar terbiasa mengiringi hari-hari kami.

Maka aku bertekad untuk menjual rumah dan pindah ke tempat lain. Akupun berjalan mencari orang yang bersedia membeli rumahku. Bertemulah aku dengan sahabatku Abu Nashr dan kuceritakan kondisiku. Lantas, dia malah memberiku 2 lembar roti isi manisan dan berkata: "berikan makanan ini kepada keluargamu."

Di tengah perjalanan pulang, aku berpapasan dengan seorang wanita fakir bersama anaknya. Tatapannya jatuh di kedua lembar rotiku. Dengan memelas dia memohon: "Tuanku, anak yatim ini belum makan, tak kuasa terlalu lama menahan rasa lapar yang melilit. Tolong beri dia sesuatu yang bisa dia makan. Semoga Allah merahmati Tuan." 

Sementara itu, si anak menatapku polos dengan tatapan yang takkan kulupakan sepanjang hayat. Tatapan matanya menghanyutkan fikiranku dalam khayalan ukhrowi, seolah-olah surga turun ke bumi, menawarkan dirinya kepada siapapun yang ingin meminangnya, dengan mahar mengenyangkan anak yatim miskin dan ibunya ini.

Tanpa ragu sedetikpun, kuserahkan semua yang ada ditanganku. "Ambillah, beri dia makan", kataku pada si ibu. Demi Allah, padahal waktu itu tak sepeserpun dinar atau dirham kumiliki. Sementara di rumah, keluargaku sangat membutuhkan makanan itu. Spontan, si ibu tak kuasa membendung air mata dan si kecilpun tersenyum indah bak purnama. 

Kutinggalkan mereka berdua dan kulanjutkan langkah gontaiku, sementara beban hidup terus bergelayutan di pikiranku. Sejenak, kusandarkan tubuh ini di sebuah dinding, sambil terus memikirkan rencanaku menjual rumah. Dalam posisi seperti itu, tiba tiba Abu Nashr dengan kegirangan mendatangiku.

"Hei, Abu Muhammad! Kenapa kau duduk duduk di sini sementara limpahan harta sedang memenuhi rumahmu?", tanyanya.
"Subhanallah....!", jawabku kaget. "Dari mana datangnya?"
"Tadi ada pria datang dari Khurasan. Dia bertanya tanya tentang ayahmu atau siapapun yang punya hubungan kerabat dengannya. Dia membawa berduyun-duyun angkutan barang penuh berisi harta", ujarnya.
"Terus?", tanyaku keheranan.
"Dia itu dahulu saudagar kaya di Bashroh ini. Kawan ayahmu. Dulu ayahmu pernah menitipkan kepadanya harta yang telah ia kumpulkan selama 30 tahun. Lantas dia rugi besar dan bangkrut. Semua hartanya musnah, termasuk harta ayahmu. Lalu dia lari meninggalkan kota ini menuju Khurasan. Di sana, kondisi ekonominya berangsur-angsur membaik. Bisnisnya melejit sukses. Kesulitan hidupnya perlahan lahan pergi, berganti dengan limpahan kekayaan. Lantas dia kembali ke kota ini, ingin meminta maaf dan memohon keikhlasan ayahmu atau keluarganya atas kesalahannya yang lalu. Maka sekarang, dia datang membawa seluruh harta hasil keuntungan niaganya yang telah dia kumpulkan selama 30 tahun berbisnis. Dia ingin berikan semuanya kepadamu, berharap ayahmu dan keluarganya berkenan memaafkannya."

Dengan perubahan drastis nasib hidupnya ini, Ahmad bin Miskin melanjutkan ceritanya :
"Kalimat puji dan syukur kepada Allah berdesakan meluncur dari lisanku. Sebagai bentuk syukuri. Segera kucari wanita faqir dan anaknya tadi. Aku menyantuni dan menanggung biaya hidup mereka seumur hidup.

Aku pun terjun di dunia bisnis seraya menyibukkan diri dengan kegiatan sosial, sedekah, santunan dan berbagai bentuk amal salih. Adapun hartaku, terus bertambah melimpah ruah tanpa berkurang. Tanpa sadar, aku merasa takjub dengan amal salihku. Aku merasa, telah mengukir lembaran catatan malaikat dengan hiasan amal kebaikan. Ada semacam harapan pasti dalam diri, bahwa namaku mungkin telah tertulis di sisi Allah dalam daftar orang orang shalih. 

Suatu malam, aku tidur dan bermimpi. Aku lihat, diriku tengah berhadapan dengan hari kiamat. Aku juga lihat, manusia bagaikan ombak, bertumpuk dan berbenturan satu sama lain.Aku juga lihat, badan mereka membesar. Dosa dosa pada hari itu berwujud dan berupa, dan setiap orang memanggul dosa dosa itu masing-masing di punggungnya. Bahkan aku melihat, ada seorang pendosa yang memanggul di punggungnya beban besar seukuran KOTA Basrah, isinya hanyalah dosa-dosa dan hal hal yang menghinakan.

Kemudian, timbangan amal pun ditegakkan, dan tiba giliranku untuk perhitungan amal. Seluruh amal burukku ditaruh di salah satu sisi timbangan, sedangkan amal baikku di sisi timbangan yang lain. Ternyata, amal burukku jauh lebih berat daripada amal baikku.!

 Tapi ternyata, perhitungan belum selesai. Mereka mulai menaruh satu persatu berbagai jenis amal baik yang pernah kulakukan. Namun alangkah ruginya aku. Ternyata dibalik semua amal itu terdapat NAFSU TERSEMBUNYI. Nafsu tersembunyi itu adalah riya, ingin dipuji, merasa bangga dengan amal shalih. Semua itu membuat amalku tak berharga. Lebih buruk lagi, ternyata tidak ada satupun amalku yang lepas dari nafsu nafsu itu.

Aku putus asa.
Aku yakin aku akan binasa.
Aku tidak punya alasan lagi untuk selamat dari siksa neraka.
Tiba-tiba, aku mendengar suara, "masihkah orang ini punya amal baik?"
"Masih", jawab suara lain. "Masih tersisa ini."
Aku pun penasaran, amal baik apa gerangan yang masih tersisa?
Aku berusaha melihatnya. Ternyata, itu HANYALAH dua lembar roti isi manisan yang pernah kusedekahkan kepada wanita fakir dan anaknya.
Habis sudah Harapanku...
Sekarang aku benar benar yakin akan binasa sejadi jadinya.
Bagaimana mungkin dua lembar roti ini menyelamatkanku, sedangkan dulu aku pernah bersedekah 100 dinar sekali sedekah (100 dinar = +/- 425 gram emas = Rp 250 juta), dan itu tidak berguna sedikit pun. Aku merasa benar benar tertipu habis habisan.
Segera 2 lembar roti itu ditaruh di timbanganku. Tak kusangka, ternyata timbangan kebaikanku bergerak turun sedikit demi sedikit, dan terus bergerak turun sampai sampai lebih berat sedikit dibandingkan timbangan kejelekanku.

Tak sampai di situ, tenyata masih ada lagi amal baikku. Yaitu berupa air mata wanita faqir itu yang mengalir saat aku berikan sedekah. Air mata tak terbendung yang mengalir kala terenyuh akan kebaikanku. Aku, yang kala itu lebih mementingkan dia dan anaknya dibanding keluargaku. Sungguh tak terbayang, saat air mata itu ditaruh, ternyata timbangan baikku semakin turun dan terus memberat. Hingga akhirnya aku mendengar suatu suara berkata, "Orang ini selamat dari siksa neraka..!"

******************************
Saudara-saudariku tercinta...
Masih adakah terselip dalam hati kita nafsu ingin dilihat hebat oleh orang lain pada ibadah dan amal-amal kita..??
Semoga kita dilindungi Allah dari perbuatan membanggakan diri, sombong, dan riya.
Semoga segala amal kita diniatkan hanya karena Allah Ta'ala.
Aamiin allahumma Aamiin..

Rabu, 16 Maret 2016

Selamat Jalan Pak Ratno

Kemarin, hari Rabu tanggal 16 Maret 2016 sebenarnya kelas kami mengikuti dua matakuliah. Pukul 08.00 matakuliah Perencanaan dan Pengembangan Kampus bersama Dr. Nares, dilanjutkan pukul 10.00 matakuliah Ekonomika Pendidikan Tinggi bersama Pak Ratno, sapaan kami untuk Dr. Soeratno, pensiunan dosen FEB UGM. Namun, beberapa menit setelah Dr. Nares keluar kelas, berita duka sampai ke telinga kami. Pak Ratno baru saja meninggal dunia.
Innalillahi wa inna ilaihi raji'un. Kullu nafsin dzaiqatul maut.
Segala sesuatu adalah milik-Nya, dan akan kembali kepada-Nya.
Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan kematian.
Pak Ratno, sosok yang menyampaikan ilmunya secara menyeluruh dengan mendiktekan seluruh materi kuliah kepada mahasiswa dan senantiasa sabar menunggu mahasiswa menyalin kata-kata yang beliau ucapkan. Semua yang beliau sampaikan merupakan hal penting untuk dicatat, jadi mahasiswa akan rugi jika ada satu kata yang terlewat.
Beliau sosok yang senang bercanda, di dalam maupun di luar kelas. Candaan beliau bukan candaan biasa, banyak pengalaman hidup yang beliau bagikan pada kami lewat candaan itu. Candaan yang penuh hikmah dan pesan moral. Pesan agar kehidupan ini harus dijalani dengan berpegang teguh pada agama, tidak luput juga pesan mengenai kehidupan berumah tangga.
Selamat jalan Pak Ratno. Semoga segala amal ibadahmu diterima oleh-Nya, dosa-dosamu diampuni oleh-Nya. Semoga segala ilmu yang engkau bagikan selama puluhan tahun menjadi amal jariah yang akan terus mengalir untukmu selama masa penantian di alam barzah.
Hari ini engkau harus memenuhi panggilan-Nya. Sedangkan kami masih di sini, dalam antrian menunggu panggilan-Nya. Entah kapan. Bisa tahun depan, bulan depan, minggu depan, esok, atau bahkan hari ini. Wallahu'alam.

Minggu, 13 Maret 2016

PENAMPILAN TERBAIK KITA UNTUK SIAPA?

Ketika kita akan menghadiri undangan, salah satu hal utama yang kita persiapkan tenu saja penampilan kita. Entah undangan tersebut ada dress code-nya atau tidak, tapi kita tentu akan mengenakan pakaian terbaik, sandal/sepatu terbaik, dan untuk kaum hawa tak ketinggalan make-up di wajah agar terlihat semakin cantik. Katanya, itu dimaksudkan untuk menghargai yang mengundang.

Menghadiri undangan merupakan pemenuhan hak saudara kita. Namun bagaimanapun juga, itu hanyalah undangan biasa, undangan dari manusia. Ada undangan lain yang begitu istimewa, karena yang mengundang juga keistimewaan-Nya tak terbatas. Undangan itu adalah undangan ke tanah suci dan undangan ke alam barzah.

Undangan dari manusia, kita penuhi dengan kesungguhan hati. Kita persiapkan penampilan kita sebaik mungkin. Lantas, bagaimana persiapan kita untuk memenuhi kedua undangan ini?Logikanya, karena yang mengundang begitu istimewa, sudah barang tentu persiapan kita juga lebih istimewa. Pakaian yang kita gunakan juga seharusnya lebih istimewa. Akan tetapi, ternyata yang mengundang sudah memberikan dress code-nya. Cukup pakaian ihram untuk ke tanah suci, dan kain kafan untuk ke alam barzah. Begitu sederhana. Pakaian ihram bagi laki-laki adalah 2 lembar kain yang tidak berjahit yang dipakai untuk bagian bawah menutup aurat, dan kain satunya lagi diselendangkan. Pakaian ihram bagi perempuan adalah pakaian yang menutup seluruh badannya kecuali muka dan telapak tangan. Sedangkan, kain kafan adalah kain tanpa jahitan yang dipakai untuk membungkus kita sebelum kita dimakamkan. Begitu sederhana untuk sebuah undangan yang sungguh istimewa.

Mengapa Dia memberikan kode kepada kita berkaitan dengan pakaian apa yang harus kita gunakan untuk memenuhi undangan-Nya? Mungkin saja, salah satunya agar kita sadar bahwa pakaian yang selama ini kita gunakan tidak bermakna apa-apa dihadapan-Nya. Perbedaan pakaian tidak menunjukkan perbedaan derajat antar manusia. Dia sendiri yang menyatakan itu dalam kalam-Nya, sebaik-baik insan, adalah insan yang bertaqwa. Tidak peduli pakaian duniawi kita adalah pakaian pemulung atau pejabat, pakaian petani atau konglomerat, asalkan pakaian yang kita gunakan dihadapan-Nya adalah pakaian ketaqwaan, maka kita menjadi tamu undangan yang istimewa dihadapan-Nya.

Ada lagi trend saat ini, yang cukup menyita waktu kita untuk memikirkan penampilan kita, yaitu trend swafoto, atau dalam istilah kekiniannya selfie. Selfie merupakan jenis foto potret diri yang diambil sendiri. Selfie biasanya diiringi dengan mengunggah foto tersebut ke media sosial. Foto yang diunggah tersebut merupakan foto dengan kualitas terbaik, dari segi pose, pencahayaan, kualitas ISO dan lain sebagainya.
Foto yang di-upload kemudian akan mengundang perhatian dari teman-teman kita di dunia maya. Ratusan like dan puluhan comment pujian berdatangan. Hal ini semakin memacu semangat kita untuk meng-upload foto terbaik lainnya. Semakin sibuk kita memperbaiki penampilan kita di hadapan manusia. Lantas, kita pun perlahan mulai melupakan, kepada siapa seharusnya penampilan terbaik kita persembahkan.

Kebanyakan kita sibuk memenuhi gaya hidup, sibuk terlihat baik di hadapan manusia. Walau kita tahu sebaik apapun kita berusaha, tidak mungkin kita mampu mencuri perhatian seluruh manusia. Padahal sekalipun seluruh manusia menilai kita buruk, tidak akan mempengaruhi penilaian Sang Maha Penguasa terhadap kita. Lantas, untuk apa kita bersusah payah terlihat baik di hadapan makhluk lalu lalai memperbaiki penampilan kita di hadapan Sang Khalik?

Wallahu 'alam..
Kunjungi saya di Facebook: Tia Lang Ere

MENGURANGI AGAR SEMAKIN BERTAMBAH

Bagaimana mungkin, mengurangi bisa membuat semakin bertambah? Terdengar kontradiktif, tapi tentu saja mungkin, dan fenomena ini sering kita jumpai di alam. Mari kita perhatikan.

Alam memberikan begitu banyak pelajaran berharga. Siang dan malam yang nampaknya kontradiktif, ternyata terjadi secara bersamaan. Timur dan barat juga sering kita katakan sebagai kata yang berlawanan, tapi ternyata timur bisa menjadi barat dan barat bisa menjadi timur.

Dari sebatang pohon pun banyak pelajaran berharga yang dapat diambil, tentu saja hanya oleh orang yang mau “membaca” tanda-tanda yang diberikan. Sebuah contoh kecil, sebatang pohon yang dipangkas ujung-ujungnya. Nampak jelas bahwa setelah dipangkas, ukuran pohon itu menjadi lebih kecil, ukuran pohon kita kurangi. Tapi, beberapa waktu setelah itu, akan ada banyak tunas baru yang tumbuh, yang nantinya akan berkembang menjadi cabang-cabang pohon yang lebih banyak serta lebih subur dari sebelumnya. Mengurangi ukuran pohon, membuat ukurannya semakin brtambah besar.

Sedekah pun seperti itu. Dengan kalkulasi sederhana, setelah bersedekah harta kita berkurang sebanyak apa yang kita sedekahkan. Namun, matematika sedekah berbanding terbalik. Dengan mengurangi jumlah harta yang kita miliki lewat sedekah, menjadi penyebab semakin bertambah banyaknya harta yang kita miliki, cepat atau lambat, di dunia maupun di akhirat. Tidak percaya???

“Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji. Allah melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki, dan Allah Mahaluas, Maha Mengetahui.” (QS. 2: 261)

Dengan janji-Nya yang seperti ini, dan kita sama-sama tahu bahwa Dia tidak pernah ingkar janji, seharusnya membuat kita tidak ragu-ragu untuk mengeluarkan harta kita di jalan-Nya. Apapun keadaan kita, memiliki kekayaan atau berkecukupan. Ya, lawan dari kekayaan adalah kecukupan, bukan kemiskinan. (Lihat QS. 53: 48).

“Dan bersegeralah kamu mencari ampunan dari Tuhanmu dan mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa; (yaitu) orang yang berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Dan Allah mencintai orang yang berbuat kebaikan.” (3: 133-134)

“Hendaknya orang yang mempunyai keluasan memberi nafkah menurut kemampuannya, dan orang yang terbatas rezekinya, hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya. Allah tidak membebani seseorang melainkan (sesuai) dengan apa yang diberikan Allah kepadanya. Allah kelak akan memberikan kelapangan setelah kesempitan.” (65: 7)

Dari kedua kutipan ayat tersebut, terlihat bahwa bukan hanya yang memiliki kekayaan saja yang diminta untuk bersedekah. Orang yang dalam keadaan sempit rezekinya juga diminta melakukan hal yang sama. Lapang maupun sempit, kaya maupun cukup.

Berkaitan dengan urusan sedekah ini, saya jadi teringat sebuah kisah dari seorang teman, yang dia peroleh dari Ustadz Salim A. Fillah (via inspiring_muslimah). Diceriterakan tentang seorang haji, sebut saja Haji Usman. Mungkin orangtuanya dulu berdo'a agar sang putra mewarisi kemuliaan Sayyidina Utsman ibn Affan Radhiyallahu ‘Anhu.

Pemilik salah satu usaha batik terkemuka di Yogyakarta ini memang dikenal atas kedermawanannya, seakan harta telah begitu tak berharga baginya. Seakan dunia telah begitu hina di matanya. Ringan baginya membuka kotak persediaan, gampang baginya menyeluk kantong simpanan dan seakan tanpa beban dia mengulur bantuan. Inilah mungkin sosok nyata orang yang dunia di tangannya dan akhirat di hatinya. Maka beberapa orang pengusaha muda yang bersemangat mendatangi beliau...

“Ajarkan pada kami, Ji,” kata mereka, “bagaimana caranya agar kami seperti Haji Usman. Bisa tidak cinta pada harta dan tidak sayang pada kekayaan, hingga seperti haji Usman, bershadaqah terasa ringan.”
“Wah,” sahut Haji Usman tertawa, “salah alamat!”
“Lho?”… .

“Lha iya. Kalian datang pada orang yang salah. Lha saya ini SANGAT MENCINTAI HARTA SAYA je. Saya ini sangat mencintai kekayaan saya je.”
“Lho?”...

“Kok lho. Lha sebab saking cinta dan sayangnya saya pada harta, SAMPAI-SAMPAI SAYA TIDAK RELA MENINGGALKAN HARTA SAYA DI DUNIA INI. Saya itu TIDAK MAU BERPISAH dengan kekayaan saya. Makanya sementara ini saya titip-titipkan dulu. TITIP pada Masjid, TITIP pada anak yatim, TITIP pada madrasah, TITIP pada pesantren, TITIP pada pejuang fii sabilillah. Alhamdulillah ada yang berkenan dititipi, saya senang sekali. Alhamdulillah ada yang sudi diamanati, saya bahagia sekali. Pokoknya DI AKHIRAT NANTI MAU SAYA AMBIL LAGI. Saya ingin kek
ayaan saya itu dapat saya nikmati berlipat-lipat di akhirat.”

Mengurangi agar semakin bertambah. Tambahan itu bisa langsung kita rasakan di dunia dalam waktu cepat atau lambat, atau bisa juga Allah tangguhkan hingga nanti di akhirat. Sekali lagi, mengurangi agar semakin bertambah, tidak hanya berkutat pada masalah harta. Tapi lebih jauh lagi dari itu, mengurangi kecintaan pada dunia, agar semakin bertambah kedekatan kita dengan-Nya.

Aamiin Allahumma Aaamiin.