Kamis, 17 Maret 2016

BELAJAR BANYAK HAL DARI SEBUAH SEL



Tubuh manusia tersusun dari berbagai sistem organ, seperti sistem pernapasan, pencernaan, dan ekskresi. Sistem organ terdiri atas beberapa organ yang bekerjasama untuk melakukan hal tertentu, misalnya sistem pencernaan yang terbentuk atas hasil kerjasama organ mulut, kerongkongan, lambung dan kawan-kawannya untuk mencerna makanan yang merupakan kebutuhan manusia. Setiap organ tubuh manusia tersusun dari beberapa jaringan. Misalnya organ ginjal yang dibentuk oleh jaringan epitel pipih selapis, jaringan epitel kubus selapis, dan sebagainya. Setiap jaringan disusun oleh unit terkecil kehidupan yang dinamakan SEL.

Dalam setiap kilogram berat badan manusia terdapat sekitar satu triliun sel. Di dalam setiap sel terdapat sebuah nukleus (inti sel) yang dilapisi membran. Di dalam nukleus inilah terdapat GEN. Gen atau dalam dunia sains lebih dikenal dengan DNA (Deoxyribonuclic Acid) mengandung semua informasi yang diperlukan untuk membentuk sebuah kehidupan.

Jika ditilik kembali, asal-mula kita adalah dari sebuah sel telur yang dibuahi oleh sebuah sel sperma. Sel yang dibuahi itu kemudian akan membelah menjadi dua buah sel. Dari dua menjadi empat, empat menjadi delapan, dan seterusnya, hingga ketika saat seorang bayi dilahirkan, tubuhnya terdiri dari sekitar tiga triliun sel.

Sebuah hal yang begitu istimewa adalah kenyataan bahwa meskipun setiap sel yang ada dalam tubuh manusia berdiferensiasi menjadi jaringan yang berbeda dan pada akhirnya setiap jaringan yang berbeda berkumpul menjadi organ tubuh manusia yang berbeda pula, namun gen yang ada dalam nukleus setiap sel ternyata menyimpan informasi yang sama. Kenyataan ini berarti sel manapun yang diambil dari bagian manapun dari tubuh manusia memiliki potensi yang sama untuk menghasilkan kehidupan baru (misalnya pada kloning).

Dari sini muncul pertanyaan besar. Jika memang setiap sel memiliki informasi yang sama, lalu mengapa sel-sel yang terdapat pada rambut hanya menjadi rambut saja dan tidak berubah menjadi sel-sel jantung atau sebaliknya? Padahal ada kemungkinan hal ini bisa terjadi karena memang setiap sel telah dilengkapi oleh satu set data yang lengkap.

Namun, faktanya bahwa hal ini tidak pernah terjadi. Entah bagaimana mekanismenya, saat sel-sel seorang janin berdiferensiasi di dalam rahim, sel-sel tersebut seolah-olah telah “terprogram” untuk hanya menjalankan fungsi tertentu. Potensi-potensi lain yang ada dalam diri sel-sel itu “dinonaktifkan”. Sel-sel melakukan sebuah “perjanjian pembagian kerja”, dan senantiasa mematuhi perjanjian itu tanpa pernah mengingkarinya.

Pembagian kerja ini tidak mengakibatkan sel-sel dalam organ tertentu menjadi lebih penting daripada sel-sel dalam organ yang lain. Sebagai contoh, sel-sel pada sistem saraf tidak lebih penting kedudukannya dari sel-sel yang terdapat pada sistem ekskresi. Sistem saraf memang penting. Sedikit gangguan saja pada sel saraf, bisa mengakibatkan hal yang fatal pada diri seseorang. Namun, bukan berarti sel-sel saraf lebih penting dari (maaf) anus. Karena gangguan pada anus juga mengakibatkan hal yang tidak kalah fatalnya.

Selayaknya tubuh manusia, pun demikian halnya dengan sebuah organisasi. Setiap individu yang menjadi anggota organisasi diibaratkan sebagai sel dalam tubuh manusia. Dalam proses pembagian tugas dan tanggungjawab, setiap anggota diwajibkan untuk selalu bekerjasama, taat dan patuh pada apa yang telah disepakati. Kemudian, jabatan struktural pun tidak menunjukkan tinggi redahnya posisi individu dalam organisasi. Yang lebih penting adalah bermanfaat atau tidaknya keberadaan individu tersebut. Menjadi ketua lantas mengabaikan tugasnya, tidak ada nilai lebihnya. Lebih baik menjadi anggota, tetapi apapun dia lakukan untuk kemajuan organisasinya.

Dalam menjalankan tanggung jawab yang diemban, belajar dari sel yang begitu setia dengan pekerjaannya merupakan hal yang patut ditiru oleh seluruh komponen organisasi. Sel-sel ginjal yang bekerja di belakang layar, tak pernah iri dengan sel-sel kulit yang nampak indah dari luar. Walaupun sel-sel ginjal memiliki potensi untuk menjadi sel-sel kulit, namun ia senantiasa bersyukur dan ikhlas dalam menjalankan amanah yang diberikan kepadanya, meskipun pekerjaannya yang begitu penting itu seringkali lupa diberikan apresiasi. Sungguh indah jika semua anggota organisasi meniru rasa syukur, keikhlasan dan kesetiaan sel. Tak pernah iri dengan siapapun karena alasan apapun, amanah dalam memegang taggung jawab, dan setia pada organisasi. Pekerjaan di belakang layar pun dilakoni tanpa mengharapkan pujian, asalkan pekerjaannya memberi manfaat bagi organisasi.

Setiap individu yang menjadi anggota masyarakat juga dapat diibaratkan sebagai sel dalam tubuh manusia. Dalam proses kehidupan, setiap individu memiliki posisi unik. Terjadi perbedaan “tupoksi” antara individu yang satu dengan individu yang lain dalam masyarakat. Ada yang menjadi tukang sapu jalanan, petani, nelayan, pemulung, guru, polisi, hakim,  dan lain sebagainya. Bayangkan jika seluruh petani menjadi pejabat pemerintahan, tidak ada lagi petani, dari mana kita bisa memperoleh beras? Bayangkan jika seluruh tukang bersih-bersih sampah menjadi polisi, tidak ada lagi yang mau membersihkan sampah, bagaimana kotornya lingkungan kita? Bayangkan jika seluruh tukang tambal ban menjadi guru, tidak ada lagi tukang tambal ban, siapa yang akan menolong kita yang pecah ban motornya di malam hari dalam perjalanan pulang ke rumah?

Karena itu, sungguh naif jika seorang pejabat pemerintahan menganggap remeh seorang petani, seorang polisi merendahkan seorang pemulung, dan seorang guru memandang sebelah mata pada tukan tambal ban. Dalam hidup, kita membutuhkan orang lain, baik secara langsung maupun tidak langsung, sebagaimana setiap sel dalam tubuh saling membutuhkan sel lain.

Betapa indah hidup ini jika kita semua meniru rasa syukur, keikhlasan dan keistiqomahan sel. Tak pernah iri dengan siapapun karena alasan apapun, amanah dalam memegang taggung jawab, dan setia pada tugasnya. Juga tak lupa untuk selalu memiliki pandangan bahwa setiap manusia diciptakan sama, tak ada bedanya.

Semoga Bermanfaat.

NAFSU TERSEMBUNYI


Beberapa pakar sejarah Islam meriwayatkan sebuah kisah menarik. Kisah Ahmad bin Miskin, seorang ulama abad ke-3 Hijriah dari kota Basrah, Irak. Beliau bercerita:

Aku pernah diuji dengan kemiskinan pada tahun 219 Hijriyah. Saat itu, aku sama sekali tidak memiliki apapun, sementara aku harus menafkahi seorang istri dan seorang anak. Lilitan hebat rasa lapar terbiasa mengiringi hari-hari kami.

Maka aku bertekad untuk menjual rumah dan pindah ke tempat lain. Akupun berjalan mencari orang yang bersedia membeli rumahku. Bertemulah aku dengan sahabatku Abu Nashr dan kuceritakan kondisiku. Lantas, dia malah memberiku 2 lembar roti isi manisan dan berkata: "berikan makanan ini kepada keluargamu."

Di tengah perjalanan pulang, aku berpapasan dengan seorang wanita fakir bersama anaknya. Tatapannya jatuh di kedua lembar rotiku. Dengan memelas dia memohon: "Tuanku, anak yatim ini belum makan, tak kuasa terlalu lama menahan rasa lapar yang melilit. Tolong beri dia sesuatu yang bisa dia makan. Semoga Allah merahmati Tuan." 

Sementara itu, si anak menatapku polos dengan tatapan yang takkan kulupakan sepanjang hayat. Tatapan matanya menghanyutkan fikiranku dalam khayalan ukhrowi, seolah-olah surga turun ke bumi, menawarkan dirinya kepada siapapun yang ingin meminangnya, dengan mahar mengenyangkan anak yatim miskin dan ibunya ini.

Tanpa ragu sedetikpun, kuserahkan semua yang ada ditanganku. "Ambillah, beri dia makan", kataku pada si ibu. Demi Allah, padahal waktu itu tak sepeserpun dinar atau dirham kumiliki. Sementara di rumah, keluargaku sangat membutuhkan makanan itu. Spontan, si ibu tak kuasa membendung air mata dan si kecilpun tersenyum indah bak purnama. 

Kutinggalkan mereka berdua dan kulanjutkan langkah gontaiku, sementara beban hidup terus bergelayutan di pikiranku. Sejenak, kusandarkan tubuh ini di sebuah dinding, sambil terus memikirkan rencanaku menjual rumah. Dalam posisi seperti itu, tiba tiba Abu Nashr dengan kegirangan mendatangiku.

"Hei, Abu Muhammad! Kenapa kau duduk duduk di sini sementara limpahan harta sedang memenuhi rumahmu?", tanyanya.
"Subhanallah....!", jawabku kaget. "Dari mana datangnya?"
"Tadi ada pria datang dari Khurasan. Dia bertanya tanya tentang ayahmu atau siapapun yang punya hubungan kerabat dengannya. Dia membawa berduyun-duyun angkutan barang penuh berisi harta", ujarnya.
"Terus?", tanyaku keheranan.
"Dia itu dahulu saudagar kaya di Bashroh ini. Kawan ayahmu. Dulu ayahmu pernah menitipkan kepadanya harta yang telah ia kumpulkan selama 30 tahun. Lantas dia rugi besar dan bangkrut. Semua hartanya musnah, termasuk harta ayahmu. Lalu dia lari meninggalkan kota ini menuju Khurasan. Di sana, kondisi ekonominya berangsur-angsur membaik. Bisnisnya melejit sukses. Kesulitan hidupnya perlahan lahan pergi, berganti dengan limpahan kekayaan. Lantas dia kembali ke kota ini, ingin meminta maaf dan memohon keikhlasan ayahmu atau keluarganya atas kesalahannya yang lalu. Maka sekarang, dia datang membawa seluruh harta hasil keuntungan niaganya yang telah dia kumpulkan selama 30 tahun berbisnis. Dia ingin berikan semuanya kepadamu, berharap ayahmu dan keluarganya berkenan memaafkannya."

Dengan perubahan drastis nasib hidupnya ini, Ahmad bin Miskin melanjutkan ceritanya :
"Kalimat puji dan syukur kepada Allah berdesakan meluncur dari lisanku. Sebagai bentuk syukuri. Segera kucari wanita faqir dan anaknya tadi. Aku menyantuni dan menanggung biaya hidup mereka seumur hidup.

Aku pun terjun di dunia bisnis seraya menyibukkan diri dengan kegiatan sosial, sedekah, santunan dan berbagai bentuk amal salih. Adapun hartaku, terus bertambah melimpah ruah tanpa berkurang. Tanpa sadar, aku merasa takjub dengan amal salihku. Aku merasa, telah mengukir lembaran catatan malaikat dengan hiasan amal kebaikan. Ada semacam harapan pasti dalam diri, bahwa namaku mungkin telah tertulis di sisi Allah dalam daftar orang orang shalih. 

Suatu malam, aku tidur dan bermimpi. Aku lihat, diriku tengah berhadapan dengan hari kiamat. Aku juga lihat, manusia bagaikan ombak, bertumpuk dan berbenturan satu sama lain.Aku juga lihat, badan mereka membesar. Dosa dosa pada hari itu berwujud dan berupa, dan setiap orang memanggul dosa dosa itu masing-masing di punggungnya. Bahkan aku melihat, ada seorang pendosa yang memanggul di punggungnya beban besar seukuran KOTA Basrah, isinya hanyalah dosa-dosa dan hal hal yang menghinakan.

Kemudian, timbangan amal pun ditegakkan, dan tiba giliranku untuk perhitungan amal. Seluruh amal burukku ditaruh di salah satu sisi timbangan, sedangkan amal baikku di sisi timbangan yang lain. Ternyata, amal burukku jauh lebih berat daripada amal baikku.!

 Tapi ternyata, perhitungan belum selesai. Mereka mulai menaruh satu persatu berbagai jenis amal baik yang pernah kulakukan. Namun alangkah ruginya aku. Ternyata dibalik semua amal itu terdapat NAFSU TERSEMBUNYI. Nafsu tersembunyi itu adalah riya, ingin dipuji, merasa bangga dengan amal shalih. Semua itu membuat amalku tak berharga. Lebih buruk lagi, ternyata tidak ada satupun amalku yang lepas dari nafsu nafsu itu.

Aku putus asa.
Aku yakin aku akan binasa.
Aku tidak punya alasan lagi untuk selamat dari siksa neraka.
Tiba-tiba, aku mendengar suara, "masihkah orang ini punya amal baik?"
"Masih", jawab suara lain. "Masih tersisa ini."
Aku pun penasaran, amal baik apa gerangan yang masih tersisa?
Aku berusaha melihatnya. Ternyata, itu HANYALAH dua lembar roti isi manisan yang pernah kusedekahkan kepada wanita fakir dan anaknya.
Habis sudah Harapanku...
Sekarang aku benar benar yakin akan binasa sejadi jadinya.
Bagaimana mungkin dua lembar roti ini menyelamatkanku, sedangkan dulu aku pernah bersedekah 100 dinar sekali sedekah (100 dinar = +/- 425 gram emas = Rp 250 juta), dan itu tidak berguna sedikit pun. Aku merasa benar benar tertipu habis habisan.
Segera 2 lembar roti itu ditaruh di timbanganku. Tak kusangka, ternyata timbangan kebaikanku bergerak turun sedikit demi sedikit, dan terus bergerak turun sampai sampai lebih berat sedikit dibandingkan timbangan kejelekanku.

Tak sampai di situ, tenyata masih ada lagi amal baikku. Yaitu berupa air mata wanita faqir itu yang mengalir saat aku berikan sedekah. Air mata tak terbendung yang mengalir kala terenyuh akan kebaikanku. Aku, yang kala itu lebih mementingkan dia dan anaknya dibanding keluargaku. Sungguh tak terbayang, saat air mata itu ditaruh, ternyata timbangan baikku semakin turun dan terus memberat. Hingga akhirnya aku mendengar suatu suara berkata, "Orang ini selamat dari siksa neraka..!"

******************************
Saudara-saudariku tercinta...
Masih adakah terselip dalam hati kita nafsu ingin dilihat hebat oleh orang lain pada ibadah dan amal-amal kita..??
Semoga kita dilindungi Allah dari perbuatan membanggakan diri, sombong, dan riya.
Semoga segala amal kita diniatkan hanya karena Allah Ta'ala.
Aamiin allahumma Aamiin..